Tumpeng Sewu adalah puncak rangkaian selamatan Desa Kemiren yang digelar setiap bulan Dzulhijjah, seminggu sebelum Idul Adha. Setiap keluarga memasak tumpeng berlauk pecel pitik, lalu menatanya di depan rumah masing-masing sepanjang jalan desa. Setelah pembacaan doa dan lantunan Lawang Sekepeng, ribuan warga dan tamu duduk berjajar menyantapnya bersama-sama di bawah cahaya oncor ajug-ajug — obor bambu bersumbu empat yang menyala sepanjang jalan. Ritual ini adalah tolak bala sekaligus pernyataan paling nyata tentang seduluran: siapa pun yang datang berhak ikut makan, tanpa diundang dan tanpa dipungut biaya.
Yang perlu diketahui
- Digelar setiap bulan Dzulhijjah, sepekan sebelum Idul Adha
- 'Sewu' berarti seribu — merujuk jumlah tumpeng yang disiapkan warga
- Lauk wajibnya pecel pitik, hidangan ritual Suku Osing
- Jalan desa diterangi oncor ajug-ajug, obor bambu bersumbu empat
- Terbuka untuk umum — wisatawan boleh ikut duduk dan makan bersama
- Didahului ritual mepe kasur dan arak-arakan barong pada rangkaian yang sama
Kosakata dalam Tumpeng Sewu
Kata Osing yang muncul di uraian ini — ketuk pengeras suara untuk mendengar pelafalannya.
- TumpengTumpeng / Nasi kerucut upacara
- BarongSeni pertunjukan mistis Banyuwangi
- Pecel pitikPecel ayam khas Osing
- KemirenDesa Kemiren / Desa adat Osing
- Osing / SingTidak / Bukan/o.sɪŋ / sɪŋ/
- PalingPaling / Ter- (superlative)
- SewuSeribu (1000)
- BambuBambu / Pring
- KasurKasur / Tempat tidur
Lanjutkan menelusuri
Ritual Seblang
Ritual tarian trance sakral Suku Osing yang dilakukan untuk mengusir roh jahat dan mendatangkan keselamatan desa.
Ritual & UpacaraKebo-Keboan
Ritual unik dimana warga desa berubah peran sebagai kerbau untuk memohon kesuburan tanah dan panen yang baik.
Ritual & UpacaraIder Bumi
Ritual mengelilingi desa sambil membawa sesaji untuk memohon keselamatan dan tolak bala.